Nelayan Masih Trauma Ekspor Pasir Laut

Alat berat sedang mengeruk pasir di Bintan

BINTAN (TP) – Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Bintan kembali me-nyuarakan penolakan akan wacana pembukaan kembali kran ekspor pasir laut dari Kepri ke Singapura. Penolakan itu dinilai berdasar, karena kerusakan-kerusakan yang sebelumnya terjadi juga belum pulih hingga sekarang. “Nelayan masih trauma. Kita masih ingat parahnya kegiatan ekspor pasir itu sebelumnya. Laut keruh, kubangan di mana-mana. Nelayan juga susah mencari ikan,” kata Baini, Ketua HNSI Bintan kepada Tanjungpinang Pos, Kamis (10/2).

Ekspor pasir sudah dihentikan pemerintah sejak Januari 2007 lalu, sesuai Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 02/M-DAG/PER/1/2007 tentang Larangan Ekspor Pasir, Tanah, dan Top Soil. Namun, belakangan mencuat lagi isu akan dibukanya kran ekspor oleh pemerintah pusat. Padahal, dibandingkan dengan sebelumnya, pembenahan belum ada dilakukan.

Baini menceritakan kembali susahnya nelayan Bintan mendapatkan ikan jika ekspor laut akan dibuka lagi. Sebab, sudah pasti, pencarian ikan oleh nelayan akan terganggu dengan adanya aktifitas ekspor pasir laut itu. Ironisnya, untuk kondisi sekarang saja, nelayan juga sudah susah mencari ikan.

Memang, isu akan dibukanya kembali ekspor pasir laut ini sudah terus terdengar. Bahkan, beberapa perusahaan terdengar sudah mulai mengambil langkah persiapan untuk itu. Meski, wacana ini masih belum terbuka, dan masih terkesan menunggu reaksi dari masyarakat.

Sebelumnya, Ketua DPRD Bintan Lamen Sarihi juga mengu-ngkapkan penolakan sama. Bahkan, Lamen menyebut, tanpa ekspor pasir laut sekalipun, pembangunan tetap bisa berjalan. Yang penting, pembangunan dilakukan sesuai kebutuhan dan manfaatnya.

“Kita lebih tenanglah dengan kondisi sekarang. Tidak perlu lagi dibuka kran eskpor pasir,” ungkap Lamen beberapa waktu lalu.

Lamen juga mengingatkan terjadinya pergeseran batas wilayah Indonesia-Singapura dengan adanya penimbunan atau reklamasi pantai di Singapura. Singapura makin luas daratannya, hingga akhirnya mempengaruhi luas laut Indonesia di perbatasan.

“Singapura pintar. Mereka pasti senang kalau dibuka lagi ekspor pasir laut. Tapi, hendaknya pemerintah memperhatikan juga nasib nelayan kita. Kasihan nelayan,” kata Lamen.(lae)

sumber berita dan foto : http://tanjungpinangpos.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s