Kemanfaatan Mineral Ikutan dalam Penambangan Pasir Laut

Daerah Riau Kepulauan (laut dan pulau-pulaunya) adalah bagian dari jalur endapan bijih timah terbesar di dunia yang membentang dari Myanmar, Thailand, Malaysia, Kepulauan Riau, Bangka dan Belitung, terus ke Pulau Karimata di sebelah barat Kalimantan. Endapan bijih timah di daerah ini sebagian besar merupakan endapan residu sisa pelapukan batuan yang semula mengandung bijih timah tersebut.

Perairan laut di kawasan ini merupakan laut dangkal dengan kedalaman sekitar 25 meter yang dikenal sebagai daerah Paparan Sunda (Sunda Shelf). Diyakini bahwa Paparan Sunda ini dahulunya adalah bagian daratan yang telah mengalami pelapukan dan pengikisan (erosi) yang telah berlangsung lama (peneplainisasi) dan kemudian mengalami genangan air laut. Dengan demikian, dapat diduga bahwa bagian-bagian tertentu dari dasar laut di kawasan ini sebagaimana terdapat di permukaan daratan (pulau-pulau) juga mengandung endapan bijih timah serta mineral-mineral berharga lainnya. Dengan kata lain, pasir laut di kawasan ini dapat dipastikan mengandung bijih timah dan mineral-mineral berguna lainnya sehingga tidak dapat dianggap sebagai pasir biasa yang tidak punya harga yang digunakan hanya sebagai material urugan/penimbun pantai atau sebagai bahan bangunan. Terlalu mewah bila hanya dipakai untuk itu!. Oleh sebab itu kegiatan perdagangan pasir laut telah dihentikan melalui KepMen Perindustrian dan Perdagangan No 117/MPP/Kep/2/2003 tentang Penghentian Sementara Ekspor Pasir laut.

Pendahuluan
Daerah Riau Kepulauan (laut dan pulau-pulaunya) adalah bagian dari jalur endapan bijih timah terbesar di dunia yang membentang dari Myanmar, Thailand, Malaysia, Kepulauan Riau, Bangka dan Belitung, terus ke Pulau Karimata di sebelah barat Kalimantan. Endapan bijih timah di daerah ini sebagian besar merupakan endapan residu sisa pelapukan batuan yang semula mengandung bijih timah tersebut. Perairan laut di kawasan ini merupakan laut dangkal dengan kedalaman sekitar 25 meter yang dikenal sebagai daerah Paparan Sunda (Sunda Shelf). Diyakini bahwa Paparan Sunda ini dahulunya adalah bagian daratan yang telah mengalami pelapukan dan pengikisan (erosi) yang telah berlangsung lama (peneplainisasi) dan kemudian mengalami genangan air laut. Dengan demikian, dapat diduga bahwa bagian-bagian tertentu dari dasar laut di kawasan ini sebagaimana terdapat di permukaan daratan (pulau-pulau) juga mengandung endapan bijih timah serta mineral-mineral berharga lainnya. Dengan kata lain, pasir laut di kawasan ini dapat dipastikan mengandung bijih timah dan mineral-mineral berguna lainnya sehingga tidak dapat dianggap sebagai pasir biasa yang tidak punya harga yang digunakan hanya sebagai material urugan/penimbun pantai atau sebagai bahan bangunan. Terlalu mewah bila hanya dipakai untuk itu!. Oleh sebab itu kegiatan perdagangan pasir laut telah dihentikan melalui KepMen Perindustrian dan Perdagangan No 117/MPP/Kep/2/2003 tentang Penghentian Sementara Ekspor Pasir laut.

Arti dan Definisi
Yang dimaksud dengan pasir laut dalam Keputusan Menteri di atas (Pasal 1) adalah bahan galian pasir yang terletak pada wilayah perairan Indonesia yang tidak mengandung unsur mineral golongan A dan/atau golongan B dalam jumlah yang berarti ditinjau dari segi ekonomi pertambangan. Sedangkan berdasarkan pengertian geologi, yang dimaksud dengan pasir laut adalah segala material (sediment) yang berukuran pasir yang karena proses transportasi akhirnya terendapkan dan terakumulasi dalam sediment di dasar laut.
Secara umum yang dimaksud dengan pengertian mineral berat adalah mineral-mineral dengan berat jenis (BJ) lebih besar daripada BJ kuarsa (2,65 gr/cm3) atau feldspar (2,54-2,76 gr/cm3), sedangkan pengertian secara teknis di laboratorium adalah mineral-mineral dengan BJ lebih besar daripada BJ larutan bromoform (2,85 gr/cm3), (Breniinkmeyer, 1978 in A.W Rose, 1979).
Mineral ikutan (ganggue minerals) dalam hal ini adalah segala asosiasi mineral yang ikut menyertai mineral utama dalam suatu cebakan yang diusahakan dan menurut genesanya terjadi secara bersama-sama dengan mineral utama (Lampiran XI, KepMen ESDM No. 1453 K/29/MEM/ 2000).

Unsur logam jarang (Rare Earth Element/ REE) adalah sederetan unsur dari mulai lantanum hingga lutetium yang merupakan anggota dari Golongan IIIA dalam susunan tabel berkala dengan sifat kimia dan kenampakan yang hampir sama satu dengan lainnya (P. Henderson, 1984). Secara umum merupakan kelompok lanthanid yang bernomor atom mulai dari 57 hingga 71. Namun demikian khusus untuk unsur Yttrium (Y) dan Niobium (Nb) serta Tantalum (Ta) karena secara sifat kimiawi memperlihatkan kenampakan yang sama, maka kerap dimasukkan dalam kelompok ini. Geokimia unsur tanah jarang ini merupakan hal yang menarik untuk diketahui karena dengan mengamati derajat fraksinasi REE dalam suatu batuan atau mineral dapat mengetahui keterjadian batuan atau mineral (petrogenesis) yang bersangkutan.

Keterjadian
Keterdapatan dan keterjadian (origin) mineral ikutan sebagai produk sampingan (by product) dalam kegiatan penambangan logam – katakanlah timah, sangat bergantung pada tatanan geologi secara regional.
Ambilah contoh, endapan bijih timah yang umum dijumpai di kawasan jalur timah Asia Tenggara ini berasosiasi dengan batuan beku asam (granit). Granit ini mengandung beberapa mineral berharga, seperti rutil, zirkon, ilmenit, lekoksen, dan monazit. Mineral-mineral ini relatif berat dan tahan terhadap pelapukan (resistan) sehingga pada waktu berlangsung proses pelapukan, batuan granit yang mengandung mineral-mineral ini tidak ikut (lama) melapuk, ditunjang karena sifat fisik. Dalam proses selanjutnya, mineral-mineral ini terendapkan sebagai pasir lepas bersama butiran-butiran kuarsa yang disebut endapan residu. Jadi, selain mengandung bijih timah, pasir laut di sini banyak mengandung mineral-mineral berat tersebut di atas. Karena keterdapatan mineral-mineral tersebut berasosiasi dengan kehadiran granit, maka pemahaman mengenai keberadaan batuan pluton yang berkomposisi granitikpun mutlak untuk diketahui kaitannya untuk memburu mineral-mineral di atas.

Kemanfaatan Ekonomi
Ditunjang dengan sifat fisik dan kimiawinya maka mineral-mineral ikutan yang kerap hadir dalam penambangan pasir laut mempunyai harga yang cukup tinggi di pasaran dunia, yakni : rutil 470-500 dollar AS/ ton, zirkon 315-345 dollar AS/ ton, ilmenit 85-110 dollar AS/ ton, lekosen 350-380 dollar AS/ ton; monasit 600-650 dollar AS/ ton (Industrial Minerals, January 2001).

Kemanfaatan Industri
Mineral ikutan dalam hal ini zirkon memiliki kemanfaatan dari segi industri (Noor C.D Aryanto, 1996) terutama kaitannya dengan industri teknologi tinggi. Manfaat itu antara lain sebagai bahan pelapis dalam pengecoran logam (foundry use); bahan tahan panas pada pengerjaan baja (steelworks refractories); bahan tahan panas pemprosesan industri kaca (glasswork refractories); pelapis dan pewarna pada pembuatan keramik (ceramics use).
Ilmenit, dalam keterdapatan akumulasi yang besar merupakan sumber titanium yang dapat berguna dalam industri pencampuran logam (alloy), selain itu karena sifatnya yang resisten terhadap panas dan korosi serta spesifik grafity yang rendah membuat mineral ini (titanium) merupakan material yang penting dalam industri pesawat terbang.
Rutil, mineral ini mempunyai kemanfaatan yang mirip sama dengan mineral ilmenit yaitu antara lain sebagai sumber ferotitanium, sebagai material penting dalam detektor gelombang radio, pigmen pewarna (coklat) untuk keramik dll.
Kemanfaatan Ilmu Pengetahuan
Dari sisi ilmu pengetahuan, dalam hal ini geologi mineral-mineral di atas ambil contoh zirkon memiliki kemanfaatan antara lain dapat digunakan untuk menentukan umur suatu deformasi dari batuan asal dengan menggunakan metode fusion track yaitu dengan mengamati dan menghitung belahan-belahan (dari jejak-jejak akibat deformasi); dapat berfungsi sebagai indikator guna mengetahui pantai purba (seperti dilakukan di Pantai Atlantik, Amerika Utara, Holmes 1971); sebagai salah satu cara dalam menerangkan sejarah pengendapan suatu daerah dengan memperhatikan penyebaran dan konsentrasinya, (Sejarah kuarter Paparan Sunda, Hehuwat, 1972).

Penutup
Ketersediaan data dan informasi menyangkut keberadaan, kandungan dan kemanfaatan mineral-mineral ikutan (mineral langka) dalam penambangan pasir laut harus lebih diintensifkan melalui berbagai kegiatan penelitian (riset) khususnya pada daerah-daerah yang secara geologis menunjang keterjadian dan keterdapatan mineral dimaksud.

Daftar Pustaka
A. Betekhtin, 1979; A course of Mineralogy, Moscow Peace Publisher.
Arthur W. Rose, 1979; Geochemistry in Mineral Exploration-second edition.
Hehuwat, 1972; Sejarah kuarter Paparan Sunda.
Industrial Minerals, January 2001
KepMen Perindustrian dan Perdagangan No 117/MPP/Kep/2/2003; tentang Penghentian sementara Ekspor Pasir Laut; Lembaran negara.
KepMen ESDM No. 1453 K/29/MEM/ 2000; Lampiran XI tentang definisi Mineral Ikutan; Lembaran negara.
Noor C.D Aryanto dan Nana Sukmana, 1996; Mineral Zirkon sebagai Mineral Alternatif untuk Kepentingan Industri; Seminar Nasional-Peran Sumberdaya Geologi dalam PJP II; Fak. Teknik UGM, Yogyakarta.
P. Henderson, 1984; Rare Earth Element (REE) Geochemistry, Departement of Mineralogy, British Museum, London, U.K.

sumber artikel  : http://www.mgi.esdm.go.id

Penulis Artikel Puslitbang Geologi Kelautan : Noor C.D Aryanto

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s